*Ketika Agama yang satu/fitrah telah dibengkokkan…

Posted: September 20, 2016 in Kebenaran Islam

“Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yg akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi -sebagaimana hewan yg dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat. Maka, apakah kalian merasakan adanya cacat?’ Lalu Abu Hurairah berkata; ‘Apabila kalian mau, maka bacalah firman Allah yg berbunyi: ‘…tetaplah atas fitrah Allah yg telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah.’ (QS. Ar Ruum (30): 30). Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Alaa Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, & telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid; telah mengabarkan kepada kami ‘Abdurrazzaq keduanya dari Ma’mar dari Az Zuhri dgn sanad ini & dia berkata; ‘Sebagaimana hewan ternak melahirkan anaknya. -tanpa menyebutkan cacat.-” [HR. Muslim No.4803].​
 Dari hadits diatas Kita diperintahkan untuk mengamati perilaku hewan, dan mengatakan kepada diri kita, agama/pedoman hidup apakah yg diberlakukan pada hewan, kenapa mereka tidak membaca ayat2 Allah seperti manusia? Atau setidaknya knp mereka tidak sholat/ibadah seperti manusia? Padahal sebenarnya mereka bisa melakukannya, seperti monyet/king kong yg tubuhnya mirip manusia yg sebenarnya bisa mempraktekkan sholat. Jadi sebenarnya mereka mempunyai agama yg sudah ada sejak lahir yg fitrah yg kita tidak sadari dan memandangnya sebelah mata, sholat mereka ialah sholat yg fitrah/tidak musyrik. Adapun perilaku hewan yg negatif, itu dikarenakan mereka mengikuti perkembangan zaman ini, yg seharusnya dahulu di zaman para nabi/zaman ajaib mereka adalah hewan2 yg bersahabat dan berbudi pekerti lebih baik dari manusia2 zaman ini.. 
“Sesungguhnya banyak diantara kita yang tidak bersungguh-sungguh dan masih kurang akan pengetahuan ilmu akhir zaman, karena menganggap zaman ini ialah zaman yang aman, sehingga banyak diantara kita yg mengikuti terus pemahaman syariat agama di zaman ini tanpa memikirkan dan menyadari kita berada di zaman apa? inilah akhir zaman yg dinubuahkan itu ! inilah hari akhir yang dekat ! Berimanlah kepada hari akhir ! Jangan malah tidak dihiraukan atau tidak bersungguh-sungguh ! Zaman ini dan pemahaman agama seluruh dunia ini akan diganti dan diperbaharui ! Dan bukan diganti setengah2, tetapi seluruhnya ! Sehingga kita akan banyak yang menolak pemahaman agama yang diganti dan diperbaharui ! Kita berada di Zaman yg sama dimana bani israil membengkokkan agamanya karena timbul permasalahan di dalamnya, sehingga nabi harun terdesak dan menjadi kepribadian samiri, sehingga membengkokkan syariat agama Allah dgn jejak2 ilmu nabi musa sepeninggal nabi musa. Dizaman ini pun terjadi demikian, sepeninggal rosulullah Muhammad Saw ulama2 di zaman ini membengkokkan pemahaman agama yang di bawa rosulullah Saw dahulu karena desakkan permasalahan di dlm umat ini (lihat hadits tentang sepeninggal rosulullah & munculnya bid’ah/kesesatan). Jika pemahaman agama seluruh dunia di zaman ini tidak bengkok karena ulah bangsa arab yang selama ini kita anggap baik, tidak mungkin umat islam terpecah menjadi 73 bagian, umat nashrani terpecah menjadi 72 bagian, dan yahudi terpecah menjadi 71 bagian. Dan juga tidak mungkin di akhir zaman akan muncul mujjaddid imam mahdi yang memperbaharui syariat agama ini, tidak mungkin isa putra maryam juga muncul untuk membunuh dajjal, yang ternyata dajjal itu sendiri ialah simbol dari pemahaman ajaran agama seluruh dunia di zaman ini yang buta sebelah..”

“…Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, karenanya hendaklah kalian berpegang teguh kepada Sunnahku (nubuah rosulullah untuk akhir zaman) dan Sunnah para Khulafa-ur Rasyidin (nubuah akhir zaman riwayat dari rosulullah kpd para sahabat) Peganglah erat-erat Sunnah tersebut dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru adalah bid’ah (bodoh/bengkok) dan setiap bid’ah adalah sesat.’ HR. Abu Dawud (no. 4607), at-Tirmidzi (no. 2676),
Mu’âdz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Tidakkah kalian mendengar apa yang disabdakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?’ Mereka berkata, ‘Apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ، فَقَالُوْا : فَكَيْفَ لَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ وَكَيْفَ نَصْنَعُ ؟ قَالَ : تَرْجِعُوْنَ إِلَى أَمْرِكُمُ الْأَوَّل
Sungguh akan terjadi fitnah (pada akhir zaman/zaman ini)”, Mereka berkata, ‘Bagaimana dengan kita, wahai Rasûlullâh ? Apa yang kita perbuat?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya kalian kembali kepada urusan kalian yang pertama kali.(yaitu kembali menjadi kanak2 kembali/kembali melakukan agama yg fitrah)” HR. Ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabîr (no. 3307)
“laa-ilaaha-illallah, celaka bangsa arab karena keburukan yang telah dekat, (karena terbongkar bangsa mereka dgn ulama2nya yang terdahulu telah membengkokkan agama islam yg satu) hari ini telah dibuka benteng Ya’juj & Ma’juj seperti ini –Sedang Sufyan menyatakan secara pasti jumlahnya yaitu sembilan puluh atau seratus-maka beliau di tanya; ‘Apakah kita juga akan binasa sedang diantara kita masih ada orang-orang yg shalih? Nabi menjawab; Iya, jika kejahatan telah mewabah.”[HR. Bukhari No.6535].



Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit/hari terbongkarnya kebenaran yg ditutupi), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir (bangsa arab yang buta sebelah/pembengkok agama). (Mereka berkata): “Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim”. (QS.Al-anbiya:97)

“Kalian akan perangi jazirah Arab sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian (kalian perangi) Persia sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Ruum sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Dajjal sehingga Allah menangkan kalian atasnya.” (HR Muslim 5161)

Dan tidak mungkin ulama dan ulama ahli tafsir seperti ibnu katsir berselisih tentang ayat pertama dari surah pertama al-qur’an yaitu “basmalah”, yang sebenarnya ayat ini menyinggung essensi Allah yang Maha Esa, satu dan tauhid (ayat inilah kunci apakah kita mengenali/memahami essensi Allah atau kita salah memahaminya). Jadi jika dari ayat pertama dan surah pertama saja mereka sudah berselisih/bertentangan dengan ayat ini, bagaimakah mereka memulai menafsirkan ayat2 dlm qur’an? Bagaimana mereka memiliki furqon dalam qur’an? Bagaimana mereka menetapkan hukum dlm qur’an? Sementara mereka sendiri tersendat di ayat pertama dari surah pertama dlm qur’an, yang mengartikan essensi ketuhanan Allah yang Maha Esa, satu & Tauhid?
Maka benarlah firman Allah yang sebenarnya menyinggung pembengkokkan pemahaman mereka, bukan Al-qur’an itu sendiri..

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS.An-nissa:82)”.

Kita telah berada di zaman “islam tinggal namanya (arabnya) saja”, karena banyak diantara kita yang tidak mempelajari ilmu2 dalam islam dengan meneliti artinya/terjemahnya, banyak diantara kita yang membaca arabnya saja pada qur’an dan memanfaatkan arti qur’an hanya sebagai sebuah dalil saja, tanpa di praktekkan dengan hal ilmiah/kelogikaan dikehidupan sehari-hari,banyak yang hafal quran & hadits tetapi tidak tahu takwilnya, padahal setiap sabda rosulullah terdapat takwil atau kunci untuk membuka enkripsi dalam qur’an & hadits.

Dari Ali bin Abi Thalib Ra. ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.: “Sudah hampir tiba suatu zaman, kala itu tidak ada lagi dari Islam kecuali hanya namanya, dan tidak ada dari Al-Qur’an kecuali hanya tulisannya (arabnya saja yg kebanyakan dibaca, dgn ritual2 dari bangsa arab). Masjid-masjid mereka indah, tetapi kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah kolong langit. Dari merekalah keluar fitnah, dan kepada mereka fitnah itu akan kembali .” (HR. al-Baihaqi)

Diriwayatkan dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu,

dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa

sallam bersabda:

ﻳَﺪْﺭُﺱُ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡُ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﺪْﺭُﺱُ ﻭَﺷْﻲُ ﺍﻟﺜَّﻮْﺏِ ﺣَﺘَّﻰ ﻻَ ﻳُﺪْﺭَﻯ ﻣَﺎ

ﺻِﻴَﺎﻡٌ، ﻭَﻻَ ﺻَﻼَﺓٌ، ﻭَﻻَ ﻧُﺴُﻚٌ، ﻭَﻻَ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ ﻭَﻳُﺴْﺮَﻯ ﻋَﻠَﻰ

ﻛِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠﻪِ k ﻓِـﻲ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ ﻓَﻼَ ﻳَﺒْﻘَﻰ ﻓِﻲ ﺍْﻷَﺭْﺽِ ﻣِﻨْﻪُ ﺁﻳَﺔٌ،

ﻭَﺗَﺒْﻘَﻰ ﻃَﻮَﺍﺋِﻒُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ : ﺍﻟﺸَّﻴْﺦُ ﺍﻟْﻜَﺒِﻴﺮُ، ﻭَﺍﻟْﻌَﺠُﻮﺯُ،

ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ : ﺃَﺩْﺭَﻛْﻨَﺎ ﺁﺑَﺎﺀَﻧَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﻜَﻠِﻤَﺔِ؛ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ : ﻻَ ﺇِﻟﻪَ

ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻨَﺤْﻦُ ﻧَﻘُﻮﻟُﻬَﺎ : ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﺻِﻠَﺔُ : ﻣَﺎ ﺗُﻐْﻨِﻲ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ

ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ، ﻭَﻫُﻢْ ﻻَ ﻳَﺪْﺭُﻭﻥَ ﻣَﺎ ﺻَﻼَﺓٌ، ﻭَﻻَ ﺻِﻴَﺎﻡٌ، ﻭَﻻَ ﻧُﺴُﻚٌ،

ﻭَﻻَ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ ﻓَﺄَﻋْﺮَﺽَ ﻋَﻨْﻪُ ﺣُﺬَﻳْﻔَﺔُ، ﺛُﻢَّ ﺭَﺩَّﺩَﻫَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺛَﻼَﺛًﺎ،

ﻛُﻞَّ ﺫَﻟِﻚَ ﻳُﻌْﺮِﺽُ ﻋَﻨْﻪُ ﺣُﺬَﻳْﻔَﺔُ، ﺛُﻢَّ ﺃَﻗْﺒَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺜَّﺎﻟِﺜَﺔِ،

ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻳَﺎ ﺻِﻠَﺔُ ! ﺗُﻨْﺠِﻴﻬِﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ، ﺛَﻼَﺛًﺎ .

“Islam akan hilang sebagaimana hilangnya hiasan pada pakaian sehingga tidak diketahui lagi apa itu puasa, tidak juga shalat, tidak juga haji, tidak juga shadaqah. Kitabullah akan diangkat pada malam hari hingga tidak tersisa di bumi satu ayat pun, yang tersisa hanyalah beberapa kelompok manusia: Kakek-kakek dan nenek- nenek, mereka berkata, ‘Kami men-dapati nenek moyang kami (mengucapkan) kalimat ini, mereka mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah’, maka kamipun mengucapkannya. Lalu Shilah berkata kepadanya, “(Kalimat) Laa Ilaaha Illallaah tidak berguna bagi mereka (karena memang mereka sendiri tidak memahami Allah itu sendiri, dari kata tersebut dan basmalah) sedangkan mereka tidak mengetahui apa itu shalat, tidak juga puasa, tidak juga haji, dan tidak juga shadaqah. Lalu Hudzaifah berpaling darinya, kemudian beliau mengulang-ulangnya selama tiga kali. Setiap kali ditanyakan hal itu, Hudzaifah berpaling darinya,lalu pada ketiga kalinya Hudzaifah menghadap dan berkata, “Wahai Shilah, kalimat itu menyelamatkan mereka dari Neraka (jika mereka mau memahami arti terdalam dari laa ilaaha illallah/essensi Allah pada ruh setiap makhluk).” Sunan Ibni Majah, kitab al-Fitan bab

Dzahaabul Qur-aan wal ‘Ilmi (II/1344-1245),
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﺃَﻧَﺎ ﻓَﺮَﻃُﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺤَﻮْﺽِ ، ﻟَﻴُﺮْﻓَﻌَﻦَّ ﺇِﻟَﻰَّ ﺭِﺟَﺎﻝٌ ﻣِﻨْﻜُﻢْ

ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﻫْﻮَﻳْﺖُ ﻷُﻧَﺎﻭِﻟَﻬُﻢُ ﺍﺧْﺘُﻠِﺠُﻮﺍ ﺩُﻭﻧِﻰ ﻓَﺄَﻗُﻮﻝُ ﺃَﻯْ ﺭَﺏِّ

ﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻰ . ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻻَ ﺗَﺪْﺭِﻯ ﻣَﺎ ﺃَﺣْﺪَﺛُﻮﺍ ﺑَﻌْﺪَﻙَ

“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga).

Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di

antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan

(minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka

dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai

Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman,

‘Engkau tidak tahu (bid’ah/bodoh) yang mereka ada-

adakan sepeninggalmu ’ “ (HR. Bukhari

no. 6576, 7049).

Dalam riwayat lain dikatakan,

ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻣِﻨِّﻰ . ﻓَﻴُﻘَﺎﻝُ ﺇِﻧَّﻚَ ﻻَ ﺗَﺪْﺭِﻯ ﻣَﺎ ﺑَﺪَّﻟُﻮﺍ ﺑَﻌْﺪَﻙَ ﻓَﺄَﻗُﻮﻝُ

ﺳُﺤْﻘًﺎ ﺳُﺤْﻘًﺎ ﻟِﻤَﻦْ ﺑَﺪَّﻝَ ﺑَﻌْﺪِﻯ

“(Wahai Rabb), sungguh mereka bagian dari

pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sungguh

engkau tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka

telah mengganti ajaranmu”. Kemudian Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “ Celaka,

celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku

sesudahku”(HR. Bukhari no. 7050).

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan/pembengkokan dlm agama) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim. (QS.al-baqarah:51)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Kisah Para Rasul 17:26-27 (al-kitab) Dari satu orang Allah telah menciptakan semua bangsa supaya mereka mendiami seluruh bumi ini. Ia menetapkan waktu-waktu tertentu dan batas-batas pada tempat-tempat tinggal mereka. Maksud-Nya supaya mereka mencari Allah, dan mungkin mereka akan menjangkau Dia dan menemukan-Nya, meskipun Dia tidak jauh dari kita masing-masing:
Kisah Para Rasul 17:28 (al-kitab) “Kita hidup bersama Dia. Kita berjalan bersama Dia. Kita ada bersama Dia….”


“Ketahuilah bahwa sesungguhnya yang meliputi semua ini tak dapat dihancurkan. Tak seorangpun dapat memusnahkan yang tak mengenal kemusnahan itu..”


“Sesungguhnya ruh ini tidak pernah lahir, juga tidak pernah mati atau setelah ada tidak akan berhenti ada. Ia tidak dilahirkan, kekal, abadi, sejak dahulu ada; dan Dia tidak akan mati pada saat badan jasmani ini mati..”

Semua benda2 nyata di alam ini mulai dari partikel terkecil hingga alam semesta ini terbuat dari dzat yang ada di alam mimpi/dimensi mimpi/dimensi pertama, tempat dimana semua makhluk dan tempat asal ruh setiap makhluk, tempat Allah yang Maha Kuasa yg lagi Maha Dekat. Alam mimpi selama ini banyak yang tidak mengakuinya, tidak menganggapnya nyata/hanya bunga tidur/tidak berarti apa2. Padahal ketika setiap makhluk mati, ruh akan kembali ke alam mimpi/dimensi mimpi sebagaimana ruh setiap makhluk pergi ke alam mimpi/dimensi mimpi disaat tidur..
Kejadian 1:1-5 (al-kitab) [Hari Pertama — Terang] Pada mulanya ketika Allah menciptakan langit dan bumi (rancangan langit dan bumi di alam bawah sadar/alam ruh, yang tidak nyata, tetapi nyata bagi Allah),bumi sama sekali kosong (kosong dari makhluk2). Apa pun tidak ada di atas bumi (tidak ada hal ilmiah pada rancangan bumi di alam bawah sadar/alam mimpi/dimensi mimpi). Kegelapan menutupi lautan (alam bawah sadar/alam mimpi terasa hampa), dan Roh Allah ke sana kemari di atas air (Allah mulai mempersiapkan segalanya demi kehampaan).Kemudian Allah mengatakan, “Jadilah terang.” Dan terang mulai bersinar (Jadilah nyata/ilmiah, kesadaran mulai dibuat, mulai dari partikel terkecil yang terbuat dari dzat mimpi hingga alam semesta dunia nyata).Ia melihat bahwa terang itu baik adanya. Kemudian Dia memisahkan terang dari gelap (memisahkan alam bawah sadar/alam mimpi/dimensi mimpi dari kesadaran/dari dimensi nyata/dimensi kedua).Allah menyebut terang itu “siang” dan gelap itu “malam”. (Allah menyebut terang itu kesadaran/ilmiah, gelap itu alam bawah sadar/alam mimpi/dimensi mimpi)” Datanglah petang, dan datanglah pagi. Itulah hari pertama (basmalah menurut pemahaman Allah).

“Siapa yang ingin tahu kedudukannya di sisi Allah, lihatlah bagaimana ‘kedudukan’ Allah dalam dirinya (ruh setiap makhluk yg kekal, di alam bawah sadar manusia/alam mimpi). Karena Allah menempatkan kedudukan hamba-Nya sebagaimana hamba itu ‘menempatkan’-Nya dalam dirinya.”(mengenali Allah di dlm dirinya/ruh setiap makhluk dan menempatkanNya di dlm dirinya/ruh setiap makhluk/dialam mimpi/dimensi mimpi) (HR. Al-Hakim dan Baihaqi)
Rasulullah SAW bersabda,” Jika zaman itu telah dekat (akhir zaman), banyak mimpi orang beriman tidak bohong (dzat mimpi terungkap dan dari dimensi mimpi yang banyak orang baru ketahui, orang2 menjadikan semua impian menjadi nyata). Dan, sebenar benar mimpi (yang menjadikan mimpi menjadi kenyataan) di antara kalian adalah mimpi orang yang paling jujur dalam perkataan.(orang yang bisa menjelaskan cara dzat mimpi menjadi hal yang ilmiah/nyata)” (HR Muslim)
Dari Anas dan Ubadah bin Ash Shamit ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Mimpi orang beriman (yang tidak bengkok dari pemahaman agama yang sebenarnya) itu merupakan seperempat puluh enam dari kenabian (mukjizat/keajaiban yang dimiliki orang2 saleh/pengamat kebenaran yang diberikan Allah melalui dzat mimpi/dimensi mimpi).” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Turmudzi dan Abu Daud)
Kenapa kita menganggap alam mimpi tidak nyata/tidak berarti apa2 ? Karena akal dari ruh kita dengan akal yang ada di jasad kita berbeda penciptaannya, ibaratnya akal dari ruh kita diciptakan dgn ukuran 4 dimensi, sementara akal dari jasad/jiwa kita diciptakan dgn ukuran 3 dimensi. Tentu saja hal inilah yang membuat akal dari jasad kita menolak keberadaan alam mimpi, karena akal dari jasad kita tidak mampu untuk menerima akal dari versi yg diatasnya..
Lalu apa jadinya jika kita tidak menempatkan Allah pada tempat yang semestinya? Apakah ada resiko nya? Jawabannya adalah Ya, ada resiko nya. Jika kita tidak menempatkan Allah pada tempat yang semestinya dan hanya menganggap Allah itu ada, itu sama saja kita buta sebelah kepada Allah, dari kebuta sebelahan tersebut timbul salah paham, dari kesalahpahaman timbul pembengkokkan ilmu, dari pembengkokkan ilmu timbul kebodohan, dari kebodohan timbul buruk sangka, dan dari buruk sangka muncullah kekafiran.
Rosulullah Saw bersabda :

“Janganlah salah satu diantara kalian mati, kecuali berprasangka baik terhadap Allah.” (HR.Muslim)



Kita pasti tahu apa resikonya jika kita mati dlm keadaan kafir? Kita akan ditolong oleh amal buruk di alam kubur yang berbentuk seseorang yg buruk rupa, siapakah seseorang tersebut? Dia adalah diri kita sendiri, ruh kita yang menjelma menjadi syaiton yang melayang-layang diatas bumi (bkn qorin kita) akibat kesesatan bawaan dari jasad kita dahulu sewaktu kita hidup..

Sebaliknya, jika kita berprasangka baik (menempatkan Allah pada tempat semestinya dan memahami ruh kita) disaat kita meninggal dunia. Kita akan ditolong oleh amal baik kita di alam kubur yang berbentuk seseorang yang rupawan, siapakah seseorang tersebut? Dia adalah diri kita sendiri, ruh kita yang menyatu dengan Allah karena kita memahami dan menempatkan Allah pada tempat yang semestinya..
Invite telegram situs, di @akhirzaman17 .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s